disini
Selasa, 11 Maret 2014
Senin, 06 Januari 2014
BERBAGI DENGAN TK KARTINI
Diposting oleh
Unknown
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Kunjungan
di Tk Kartini ini dilakukan sebagai wujud kepedulian dan pengabdian kepada
sesama manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Karena pada dasarnya manusia
sebagai makhluk sosial pasti membutuhkan bantuan orang lain. Di dalam Tk
Kartini banyak terdapat anak-anak kalangan menengah ke bawah yang memiliki
motivasi untuk terus belajar meskipun dengan keadaan sekolah yang kurang
memadai. Kegiatan observasi ini dilakukan selain untuk mengetahui seluk beluk
Tk Kartini, juga ingin memberikan kepedulian dan perhatian kepada siswa-siswi
Tk Kartini tersebut.
Melalui
observasi ini akan diadakan beberapa kegiatan untuk anak-anak Tk tersebut yang
membuat mereka menjadi terhibur, termotivasi dan bersemangat untuk terus
bersekolah. Selain itu, kegiatan ini diadakan untuk membantu memecahkan masalah
yang mungkin ada di Tk Kartini tersebut. Mahasiswa diharapkan dapat menerapkan
ilmu yang telah diperolehnya dan dapat menjadikan pengabdian bagi masing-masing
individu.
B. Tujuan
Meningkatkan
jiwa sosial bagi mahasiswa serta membantu memecahkan masalah yang mungkin ada
di Tk Kartini.
C. Manfaat
Kegiatan
observasi di Tk Kartini bermanfaat bagi mahasiswa agar lebih meningkatkan
kepedulian dengan sesama
manusia,khususnya terhadap anak-anak dengan keluarga yang status sosial yang menengah ke bawah, akan
tetapi mereka memiliki semangat sekolah
yang tinggi.
BAB II
PROFIL TK KARTINI
A. Deskripsi
Lembaga
1.
Data
Lembaga
a.
Nama Lembaga : Tk Kartini Karanggayam
b.
Alamat
Kantor : Karanggayam, Caturtunggal, Depok,
Sleman, Yogyakarta
c.
Dusun : Karanggayam
d.
Desa/Kelurahan : Caturtunggal
e.
Kecamatan : Depok
f.
Kabupaten : Sleman
g.
Provinsi : Daerah Istimewa Yogyakarta
2.
Profil Tk Kartini
a.
Latar
Belakang Kunjungan ke Tk Kartini
Tk Kartini berdiri tanggal 10 Oktober 1981 dan didirikan oleh PKK dusun
Karanggayam. Tk Kartini ini masih berdiri di bawah naungan dusun karanggayam,
kelurahan Caturtunggal, sehingga segala bentuk kebutuhan bergantung pada
bantuan pemerintah dan pengurus dusun setempat yang dana bantuan tersebut masih
terlalu minim. Gedung Tk Kartini juga masih meminjam tempat yaitu aula milik
dusun karanggayam.Jumlah anak didik di Tk Kartini tersebut mulai dari tahun
1981 sampai saat ini mengalami fluktuatif dan bisa dikatakan jumlah anak didik
di Tk Kartini tersebut kurang dari pada umumnya. Dari segi tenaga pendidik juga
sangat memprihatinkan, dengan jumlah guru hanya 2 orang yang salah satunya
sudah mengabdi selama 32 tahun tanpa adanya pengangkatan sebagai pegawai negeri
sipil sampai saat ini dan dengan upah yang sangat tidak sepadan dengan
perjuangan serta pengabdiaannya. Hal ini tentunya menggugah hati nurani kita
sebagai mahasiswa yang nantinya akan menjadi calon pendidik di masa depan
untuk berpartisipasi membangun pendidikan
bangsa ini.
b. Visi dan Misi
1) Visi
Tk Kartini memiliki visi untuk
mewujudkan peserta didik yang unggul dalam prestasi, beriman, taqwa, dan
berbudi luhur.
2)
Misi
a.) Melaksanakan
pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
b.) Menggali
dan mengembangkan potensi dan aspek perkembangan anak didik melalui cara-cara
yang tepat sesuai perkembangan anak.
c.) Membiasakan
berperilaku sesuai denngan nilai-nilai moral dan agama yang dianutnya.
d.) Mengembangkan
budaya mutu
e.) Meningkatkan
kualitas sumberdaya manusia
f.) Memfasilitasi
kegiatan pengembangan bakat
g.) Membiasakan
untuk berani bertanya dan mengemukakan pendapat
h.) Membiasakan
pola hidup bersih dan sehat
i.)
Menanamkan nilai-nilai
budaya jawa
j.)
Menanamkan disilpin dan
kemandirian anak sejak dini
c. Program Kegiatan
Untuk mencapai tujuan organisasi
sosial Tk ini disusun beberapa program kegiatan diantaranya :
1)
Bidang Pendidikan
a)
Penyampaian materi
2)
Bidang Seni dan Budaya
a)
Adanya kegiatan wajib seni tari yang
diadakan setiap hari selasa sebagai wujud melestarikan budaya.
b)
Adanya kegiatan wajib seni karawitan
yang diadakan setiap hari sabtu sebagai wujud mencintai seni tradisional
warisan bangsa.
3)
Bidang Kesehatan
a)
Adanya program taman gizi yang
diadakan setiap hari sabtu yang merupakan donasi dari wali murid sebagai wujud
kepedulian pada pola makan yang sehat.
b)
Adanya kegiatan wajib senam setiap
hari untuk mewujudkan pola hidup yang sehat
4)
Bidang Keagamaan
a)
Adanya kegiatan mengenal baca tulis
Iqro’ dan kegiatan keagamaan yang lain
sejak dini
BAB
III
HASIL
OBSERVASI PENDIDIKAN KARAKTER
DI
TK KARTINI
A. Kegiatan
Tk Kartini
Seperti halnya Tk yang lain,
kegiatan di Tk Kartini ini juga tidak berbeda dengan sekolah lain dimana anak
didiknya tetap mendapatkan pengajaran dan pelajaran setiap harinya. Kegiatan
berhitung, seni, olahraga, dan permainan semua sudah terjadwal dengan sistematis.
Semua anak didik menjalani dengan tertib dan disiplin serta mandiri karena
telah terbiasa dengan hal tersebut. Namun, yang membedakan disini adalah di Tk
ini tidak ada pemberian makanan atau makan bareng dengan makanan yang sama pada
jam istirahatnya, mereka para siswa siswi membawa bekal makanan sendiri-sendiri
karena biaya yang dirasa memberatkan.
B. Kegiatan
Kunjungan
Kegiatan
yang kami laksanakan di Tk Kartini, antara lain:
1. Penyajian
Materi
Menyampaikan materi
kepada anak didik yang didalam kegiatan tersebut juga mencakup kompetisi
mengerjakan soal untuk mewujudkan jiwa kompeten terhadap anak didik agar mampu
bersaing secara jujur.
2. Pelatihan
jiwa kepemimpinan
Pelatihan jiwa
kepemimpinan ini kita tanamkan melalui kegiatan yang menawarkan keberanian anak
didik untuk memimpin doa sebelum belajar dalam kelas.
3. Mengadakan
kegiatan hiburan berupa permainan anak ( games)
Kegiatan hiburan
tersebut berupa:
a. Lomba
puzzle
Lomba
ini bertujuan untuk melatih anak didik dalam hal kreativitas, kesabaran, ketelitian,
serta pola berfikir untuk menyelesaikan sebuah tantangan.
b. Ular
naga
Kegiatan
dari lomba ini bertujuan untuk menanamkan jiwa sportif kepada anak didik dan
berani mengambil resiko atau tantangan yang akan dihadapinya berupa pertanyaan
yang harus dijawab.
c. Kata
berantai
Tujuan
dari adanya lomba ini yaitu menanamkan jiwa kebersamaan dan melatih ingatan
anak didik dalam menerima, menangkap, dan menyampaikan informasi yang
diperoleh.
d. Balon
berpasangan
Kegiatan
dari lomba ini bertujuan untuk saling bekerjasama terhadap teman atau
pasangannya dan melatih kekompakan untuk menyelesaikan sebuah tantangan dengan
baik.
4. Mengadakan
kegiatan berbagi kasih
Kegiatan
berbagi ini kita lakukan dalam bentuk memberi kepedulian berupa pengabdian kita
sebagai mahasiswa yang nantinya akan menjadi calon pendidik untuk peduli dan
lebih memperhatikan sekolah-sekolah di daerah kecil yang membutuhkan perhatian
serta kepedulian yang lebih. Disana kami jugaberbagi makanan sebagai bentuk
kepedulian terhadap sesama. Selain itu kami sedikit memberikan peralatan serta
perlengkapan sekolah yang dirasa sangat dibutuhkan untuk menunjang kegiatan
belajar mengajar.Serta hadiah untuk yang memenangkan setiap tantangan sebagai
motivasi bagi anak didik.
C. Nilai
– nilai karakter yang dapat diambil dari observasi di TK Kartini
Nilai-nilai karakter
yang dapat kita ambil sebagai calon pendidik di masa depan yaitu sebagai
berikut:
·
Dari segi pendidik
Sosok
ibu Sri Pudyassi, guru sekaligus kepala Tk Kartini yang telah mengabdi selama
32 tahun dan bahkan saat ini seharusnya beliau telah purnatugas dan belum juga diangkat
menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil. Beliau yang sampai sekarang masih
bertahan untuk menjadi pendidik di Tk Kartini ini selama hidupnya hanya
menerima upah Rp. 300.000 per tahunnya. Hal itulah yang menjadi pencerminan
bagi kita semua bahwa apa yang menjadi landasan utama beliau selama ini adalah
keikhlasan yang luar biasa, mengabdi untuk masa depan anak didik tanpa
mempermasalahkan upah yang diperoleh semata-mata hanya demi masa depan anak
didiknya. Jiwa pendidik sejati yang seperti inilah yang seharusnya menjadi
perhatian pemerintah dan tauladan bagi pendidik-pendidik lainnya.
·
Dari segi siswa:
1. Melatih
Kesabaran
Serangkaian
kegiatan yang telah kita lakukan di TK Kartini melatih kesabaran dalam
menghadapi perilaku anak didik yang belum bisa membedakan antara hal yang baik
atau pun hal yang buruk, karena usia mereka masih tergolong usia anak-anak.
2. Meningkatkan
Jiwa Kepedulian kepada Sesama manusia
Keadaan
TK Kartini menggugah hati nurani kita sebagai makhluk sosial untuk saling
berbagi dan peduli kepada sesama manusia.
3. Memotivasi
diri sendiri untuk selalu menanamkan kepribadian yang baik dimana pun dan kapan
pun kita berada.
4. Melatih
jiwa kepemimpinan
Kegiatan
yang kita lakukan sangat memerlukan peranan dari semua pihak yang bersangkutan,
sehingga kita perlu memiliki jiwa kepemimpinan agar mereka baik anak didik
maupun guru yang mengajar dapat berpartisipasi dalam kegiatan yang kita
lakukan.
BAB
IV
KESIMPULAN
Kesimpulan dari hasil observasi kami
yaitu kami telah melakukan observasi di TK Kartini untuk melihat latar belakang berdirinya TK
Kartini dan mengamati kegiatan belajar mengajar serta kami juga mengadakan
kegiatan yaitu berupa Penyampaian materi, pelatihan jiwa kepemimpinan,
mengadakan kegiatan hiburan untuk anak didik yang berupa permaianan ( games),
dan mengadakan peduli kasih kepada anak didik dan pendidik. Kegiatan itu dikhususkan untuk anak-anak yang
mempunyai latar belakang keluarga berstatus menengah ke bawah.
Kegiatan-kegiatan itu diharapkan mampu memberikan dorongan kepada anak-anak TK
agar semakin bisa berkembang dan lebih semangat untuk bersekolah. Adanya
kegiatan yang telah kita lakukan di TK Kartini diharapkan anak-anak didik mampu
tumbuh menjadi anak-anak yang kreativ,aktif dan
inovatif serta mempunyai karakter baik yang dapat diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari. Penanaman karakter seperti disiplin, tanggung jawab,
jujur, peduli dengan diri sendiri dan lingkungan, saling menghargai sudah
tertanam dan menjadi rutintas sehari-hari. Itu merupakan kepribadian dan contoh
yang baik untuk mewujudkan generasi muda yang luar biasa.
Kamis, 27 Juni 2013
MOBILITAS SOSIAL
Diposting oleh
Unknown
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Manusia
adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna, manusia diberi akal dan pikiran.
Walaupun manusia adalah makhluk sempurna, setiap manusia pasti tidak dapat
hidup sendiri. Manusia harus menyadari kodratnya sebagai makhluk sosial.
Manusia membutuhkan orang lain untuk saling berbagi, saling membantu dan saling
memperhatikan demi mencukupi kebutuhan hidupnya. Desakan kebutuhan membuat
manusia berkumpul membentuk suatu kelompok yang disebut “masyarakat”. Jika
dalam sebuah masyarakat terdapat beberapa hal yang membedakan antara sebuah
kelompok dengan kelompok lain sering kali akan membentuk suatu kelompk
masyarakat yang dianggap kedudukannya lebih tinggi jika dibanding dengan
kelompok masyarat yang lainnya.
Ilmu
sosial menunjukan pada obyeknya yaitu masyarakat. Fenomena sosial yang disebut
dengan istilah mobilitas kini telah menjadi sasaran penelitian sosial yang
semakin menarik, bukan hanya bagi kalangan sarjana ilmu sosial tetapi juga bagi
instansi pemerintah. Keinginan untuk mencapai status dan penghasilan yang lebih
tinggi daripada apa yang pernah dicapai oleh orang tua seseorang, merupakan
impian setiap orang. Keinginan-keinginan itu adalah normal, karena pada
dasarnya manusia mempunyai kebutuhan yang tidak
ada masyarakat modern sering kita
jumpai fenomena-fenomena keinginan untuk pencapaian status sosial yang lebih
tinggi maupun pencapaian penghasilan yang lebih tinggi. Hal tersebut merupakan
pendorong masyarakat untuk melakukan mobilitas sosial demi tercapainya
kesejahterahan hidup. Namun pada kenyataannya mobilitas sosial yang terjadi
pada masyarakat tidak hanya bersifat naik ke tingkat yang lebih tinggi, akan
tetapi banyak mobilitas sosial turun tanpa direncanakan yang dapat menurunkan
status dan penghasilan seseorang.
Banyak sekali masyarakat yang dalam
kehidupan nya mengalami mobilitas sosial, namun tidak sedikit pula dari mereka
juga tidak mengetahui dan menyadari bagaimana dan mengapa kita bisa terjun
dalam sebuah mobilitas sosial. Pada kesempatan kali ini kami akan membahas dan
menjabarkan tentang mobilitas sosial yang terjadi di masyarakat.
B. Rumusan
Masalah
- Apakah pengertian mobilitas sosial?
- Apa sajakah bentuk-bentuk dari mobilitas sosial?
- Apa sajakah faktor pendorang dan penghambat mobilitas sosial?
- Apa sajakah saluran-saluran mobilitas sosial?
- Bagaimana dampak dari adanya mobilitas sosial?
C. Batasan
Masalah
- Pengertian mobilitas sosial.
- Bentuk-bentuk dari mobilitas sosial.
- Faktor pendorong dan penghambat mobilitas sosial.
- Saluran-saluran mobilitas sosial.
- Dampak dari adanya mobilitas sosial.
D. Tujuan
- Untuk mengetahui pengertian mobilitas sosial.
- Untuk mengetahui bentuk-bentuk dari mobilitas sosial.
- Untuk mengetahui faktor pendorang dan penghambat mobilitas sosial.
- Untuk mengetahui saluran-saluran mobilitas sosial.
- Untuk mengetahui dampak dari adanya mobilitas sosial.
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Mobilitas Sosial
Gerak
sosial (Mobilitas sosial) adalah perubahan, pergeseran, peningkatan, ataupun
penurunan status dan peran anggotanya. Mobilitas berasal dari bahasa latin
mobilis yang berarti mudah dipindahkan atau banyak bergerak dari satu tempat ke
tempat yang lain. Kata sosial yang ada pada istilah tersebut mengandung makna
gerak yang melibatkan seseorang atau sekelompok warga dalam kelompok sosial.
Pengertian Menurut Beberapa Ahli :
1. Paul B. Horton, mobilitas sosial
adalah suatu gerak perpindahan dari satu kelas sosial ke kelas sosial lainnya
atau gerak pindah dari strata yang satu ke strata yang lainnya.
2. Kimball Young dan Raymond W. Mack,
mobilitas sosial adalah suatu gerak dalam struktur sosial yaitu pola-pola
tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial. Struktur sosial
mencakup sifat hubungan antara individu dalam kelompok dan hubungan antara
individu dengan kelompoknya.
Jadi, mobilitas sosial adalah
perpindahan posisi seseorang atau sekelompok orang dari lapisan yang satu ke
lapisan yang lain. Misalnya, seorang pensiunan pegawai rendahan salah satu
departemen beralih pekerjaan menjadi seorang pengusaha dan berhasil dengan
gemilang.
B. Bentuk-Bentuk Mobilitas Sosial
Dilihat
dari arah pergerakannya terdapat dua bentuk mobilitas sosial , yaitu mobilitas
sosial vertikal dan mobilitas sosial horizontal. Mobilitas sosial vertikal
dapat dibedakan lagi menjadi social sinking
dan social climbing. Sedangkan
mobilitas horizontal dibedakan menjadi mobilitas social antarwilayah
(geografis) dan mobilitas antargenerasi.
1.
Mobilitas
Vertikal : adalah perpindahan status sosial yang dialami seseorang atau
sekelompok orang pada lapisan sosial yang berbeda. Mobilitas vertikal mempunyai
dua bentuk yang utama :
a.
Mobilitas vertikal ke atas (Social Climbing)
Social climbing adalah mobilitas yang terjadi karena adanya peningkatan
status atau kedudukan seseorang.
Sosial Climbing memiliki dua bentuk, yaitu :
1)
Naiknya
orang-orang berstatus sosial rendah ke status sosial yang lebih tinggi, dimana
status itu telah tersedia. Contoh: A adalah seorang guru sejarah di salah satu
SMA. Karena memenuhi persyaratan, ia diangkat menjadi kepala sekolah.
2)
Terbentuknya
suatu kelompok baru yang lebih tinggi dari pada lapisan sosial yang sudah ada.
Contoh: Pembentukan organisasi baru memungkinkan seseorang untuk menjadi ketua
dari organisasi baru tersebut, sehingga status sosialnya naik.
Adapun penyebab social climbing adalah sebagai berikut :
1)
Melakukan
peningkatan prestasi kerja.
2)
Menggantikan
kedudukan yang kosong akibat adanya proses peralihan generasi.
b. Mobilitas
vertikal ke bawah (Social sinking)
Social sinking merupakan proses penurunan status atau kedudukan seseorang.
Proses sosial sinking sering kali menimbulkan gejolak psikis bagi seseorang
karena ada perubahan pada hak dan kewajibannya.
Sosial Sinking dibedakan menjadi dua bentuk :
1)
Turunnya
kedudukan seseorang ke kedudukan lebih rendah. Contoh: seorang prajurit dipecat
karena melakukan tidakan pelanggaran berat ketika melaksanakan tugasnya.
2)
Tidak
dihargainya lagi suatu kedudukan sebagai lapisan sosial. Contoh Tim Juventus
terdegradasi ke seri B.
Penyebab social sinking adalah sebagai berikut.:
1)
Berhalangan
tetap atau sementara.
2)
Memasuki
masa pensiun.
3)
Berbuat
kesalahan fatal yang menyebabkan diturunkan atau di pecat dari
jabatannya.
c. Mobilitas horizontal
Mobilitas horizontal adalah
perpindahan status sosial seseorang atau sekelompok orang dalam lapisan sosial
yang sama. Dengan kata lain mobilitas horisontal merupakan peralihan individu
atau obyek-obyek sosial lainnya dari suatu kelompok sosial ke kelompok sosial
lainnya yang sederajat. Ciri utama mobilitas horizontal adalah tidak terjadi
perubahan dalam derajat kedudukan seseorang dalam mobilitas sosialnya. Contoh:
Pak Amir seorang warga negara Amerika Serikat, mengganti kewarganegaraannya
dengan kewarganegaraan Indonesia, dalam hal ini mobilitas sosial Pak Amir
disebut dengan Mobilitas sosial horizontal karena gerak sosial yang dilakukan
Pak Amir tidak merubah status sosialnya.
Mobilitas sosial horizontal
dibedakan dua bentuk :
1)
Mobilitas
sosial antar wilayah/ geografis. Gerak sosial ini adalah perpindahan individu
atau kelompok dari satu daerah ke daerah lain seperti transmigrasi, urbanisasi,
dan migrasi.
2) Mobilitas
antargenerasi. Mobilitas antargenerasi secara umum berarti mobilitas dua
generasi atau lebih, misalnya generasi ayah-ibu, generasi anak, generasi cucu,
dan seterusnya. Mobilitas ini ditandai dengan perkembangan taraf hidup, baik
naik atau turun dalam suatu generasi. Penekanannya bukan pada perkembangan
keturunan itu sendiri, melainkan pada perpindahan status sosial suatu generasi
ke generasi lainnya. Contoh: Pak Parjo adalah seorang tukang becak. Ia hanya
menamatkan pendidikannya hingga sekolah dasar, tetapi ia berhasil mendidik
anaknya menjadi seorang pengacara. Contoh ini menunjukkan telah terjadi
mobilitas vertikal antargenerasi.
Mobilitas antargenerasi dibedakan menjadi dua, yaitu
mobilitas intragenerasi dan mobilitas intergenerasi:
a) Mobilitas intragenerasi adalah
mobilitas yang dialami oleh seseorang atau sekelompok orang dalam satu generasi
yang sama. Contoh: Pak Darjo awalnya adalah seorang buruh. Namun, karena
ketekunannya dalam bekerja dan mungkin juga keberuntungan, ia kemudian memiliki
unit usaha sendiri yang akhirnya semakin besar. Contoh lain, Pak Bagyo memiliki
dua orang anak, yang pertama bernama Endra bekerja sebagai tukang becak, dan
Anak ke-2, bernama Ricky, yang pada awalnya juga sebagai tukang becak. Namun,
Ricky lebih beruntung daripada kakaknya, karena ia dapat mengubah statusnya
dari tukang becak menjadi seorang pengusaha. Sementara Endra tetap menjadi
tukang becak. Perbedaan status sosial antara Endra dengan adiknya ini juga
dapat disebut sebagai mobilitas intragenerasi.
b) Mobilitas
Intergenerasi adalah perpindahan status atau kedudukan yang terjadi diantara
beberapa generasi. Mobilitas intergenerasi dibedakan menjadi dua yaitu:
1)
Mobilitas
intergenerasi naik;
2) Mobilitas
intergenerasi turun; Contoh : Kakeknya seorang bupati, bapaknya seorang camat
dan anaknya sebagai kepala desa (intergenerasi turun).
C. Faktor-faktor
Pendorong dan Penghambat Mobilitas Sosial
Faktor Pendorong Mobilitas Sosial :
Faktor Pendorong Mobilitas Sosial :
1. Faktor
Struktural
Faktor struktural adalah jumlah relatif dari kedudukan tinggi yang bisa dan harus diisi serta kemudahan untuk memperolehnya. Adapun yang termasuk dalam cakupan faktor struktural adalah sebagai berikut :
Faktor struktural adalah jumlah relatif dari kedudukan tinggi yang bisa dan harus diisi serta kemudahan untuk memperolehnya. Adapun yang termasuk dalam cakupan faktor struktural adalah sebagai berikut :
a.Struktur
Pekerjaan. Di setiap masyarakat terdapat beberapa kedudukan tinggi dan rendah
yang harus diisi oleh anggota masyarakat yang bersangkutan
b.Perbedaan
Fertilitas. Setiap masyarakat memiliki tingkat fertilitas (kelahiran) yang
berbeda-beda. Tingkat fertilitas akan berhubungan erat dengan jumlah jenis
pekerjaan yang mempunyai kedudukan tinggi atau rendah
c. Ekonomi Ganda. Suatu negara mungkin
saja menerapka sistem ekonomi ganda (tradisional dan modern), contoh nya di
negara-negara Eropa barat dan Amerika. Hal itu tentu akan berdampak pada jumlah
pekerjaan, baik yang bersetatus tinggi naupun rendah.
2.
Faktor Individu
Faktor
individu adalah kualitas seseorang , baik
ditinjau dari segi tingkat pendidikan, penampilan, maupun keterampilan pribadi.
Faktor Individu meliputi :
a. Perbedaan
Kemampauan Setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Mereka yang
cakap mempunyai kesempatan dalam mobilitas sosial.
b. Orientasi Sikap terhadap mobilitas
Banyak cara yang di lakukan oleh para individu dalam meningkatka prospek
mobilitas sosialnya, antara lain melalui pedidikan, kebiasaan kerja, penundaan
kesenangan, dan memperbaiki diri.
c. Faktor
kemujuran Walaupun seseorang telah berusaha keras dalam mencapai tujuannya,
tetapi kadang kala mengalami kegagalan.
3. Status
Sosial
Setiap manusia dilahirkan dalam status sosial yang dimiliki oleh orang tuanya, karena ketika ia dilahirkan tidak ada satu manusia pun yang memiliki statusnya sendiri. Apabila ia tidak puas dengan kedudukan yang diwariskan oleh orang tuanya, ia dapat mencari kedudukannya sendiri dilapisan sosial yang lebih tinggi.
Setiap manusia dilahirkan dalam status sosial yang dimiliki oleh orang tuanya, karena ketika ia dilahirkan tidak ada satu manusia pun yang memiliki statusnya sendiri. Apabila ia tidak puas dengan kedudukan yang diwariskan oleh orang tuanya, ia dapat mencari kedudukannya sendiri dilapisan sosial yang lebih tinggi.
4. Keadaan
Ekonomi
Keadaan ekonomi dapat menjadi pendorong terjadinya mobilitas sosial. Orang yang hidup dalam keadaan ekonomi yang serba kekurangan, misalnya daerah tempat tinggal nya tandus dan kekurangan SDA, kemudian berpindah tempat ke tempat yang lain atau ke kota besar. Secara sosiologis mereka dikatakan mengalami mobilitas.
Keadaan ekonomi dapat menjadi pendorong terjadinya mobilitas sosial. Orang yang hidup dalam keadaan ekonomi yang serba kekurangan, misalnya daerah tempat tinggal nya tandus dan kekurangan SDA, kemudian berpindah tempat ke tempat yang lain atau ke kota besar. Secara sosiologis mereka dikatakan mengalami mobilitas.
5. Situasi
Politik
Situasi Politik dapat menyebabkan terjadinya mobilitas sosial suatu masyarakat dalam sebuah negara. Keadaan negara yang tidak menentu akan mempengaruhi situasi keamanan yang bisa mengakibatkan terjadinya mobilitas manusia ke daerah yang lebih aman.
Situasi Politik dapat menyebabkan terjadinya mobilitas sosial suatu masyarakat dalam sebuah negara. Keadaan negara yang tidak menentu akan mempengaruhi situasi keamanan yang bisa mengakibatkan terjadinya mobilitas manusia ke daerah yang lebih aman.
6. Kependudukan
(Demografi)
Faktor kependudukan biasanya menyebabkan mobilitas dalam arti geografik. Di satu pihak, pertambahan jumlah penduduk yang pesa mengakibatkan sempitnya tempat permukiman, dan di pihak lain kemiskinan yang semakin merajalela. Keadaan demikian yang membuat sebagian warga masyarakat mencari tempat kediaman lain.
Faktor kependudukan biasanya menyebabkan mobilitas dalam arti geografik. Di satu pihak, pertambahan jumlah penduduk yang pesa mengakibatkan sempitnya tempat permukiman, dan di pihak lain kemiskinan yang semakin merajalela. Keadaan demikian yang membuat sebagian warga masyarakat mencari tempat kediaman lain.
7. Keinginan
Melihat Daerah Lain
Adanya keingina melihat daerah lain mendorong masyarakat untuk melangsungkan mobilitas geografik dari satu tempat ke tempat yang lain.
Adanya keingina melihat daerah lain mendorong masyarakat untuk melangsungkan mobilitas geografik dari satu tempat ke tempat yang lain.
8. Perubahan
kondisi sosial
Struktur kasta dan kelas dapat berubah dengan sendirinya karena adanya perubahan dari dalam dan dari luar masyarakat. Misalnya, kemajuan teknologi membuka kemungkinan timbulnya mobilitas ke atas. Perubahan ideologi dapat menimbilkan stratifikasi baru.
Struktur kasta dan kelas dapat berubah dengan sendirinya karena adanya perubahan dari dalam dan dari luar masyarakat. Misalnya, kemajuan teknologi membuka kemungkinan timbulnya mobilitas ke atas. Perubahan ideologi dapat menimbilkan stratifikasi baru.
9. Ekspansi
teritorial dan gerak populasi
Ekspansi teritorial dan perpindahan penduduk yang cepat membuktikan cirti fleksibilitas struktur stratifikasi dan mobilitas sosial. Misalnya, perkembangan kota, transmigrasi, bertambah dan berkurangnya penduduk.
Ekspansi teritorial dan perpindahan penduduk yang cepat membuktikan cirti fleksibilitas struktur stratifikasi dan mobilitas sosial. Misalnya, perkembangan kota, transmigrasi, bertambah dan berkurangnya penduduk.
10. Komunikasi
yang bebas
Situasi-situasi yang membatasi komunikasi antarstrata yang beraneka ragam
memperkokoh garis pembatas di antara strata yang ada dalam pertukaran
pengetahuan dan pengalaman di antara mereka dan akan mengahalangi mobilitas
sosial. Sebaliknya, pendidikan dan komunikasi yang bebas sertea efektif akan
memudarkan semua batas garis dari strata sosial uang ada dan merangsang
mobilitas sekaligus menerobos rintangan yang menghadang.
11. Pembagian
kerja
Besarnya kemungkinan bagi terjadinya mobilitas dipengaruhi oleh tingkat pembagian kerja yang ada. Jika tingkat pembagian kerja tinggi dan sangat dispeliasisasikan, maka mobilitas akan menjadi lemah dan menyulitkan orang bergerak dari satu strata ke strata yang lain karena spesialisasi pekerjaan nmenuntut keterampilan khusus. Kondisi ini memacu anggota masyarakatnya untuk lebih kuat berusaha agar dapat menempati status tersebut.
Besarnya kemungkinan bagi terjadinya mobilitas dipengaruhi oleh tingkat pembagian kerja yang ada. Jika tingkat pembagian kerja tinggi dan sangat dispeliasisasikan, maka mobilitas akan menjadi lemah dan menyulitkan orang bergerak dari satu strata ke strata yang lain karena spesialisasi pekerjaan nmenuntut keterampilan khusus. Kondisi ini memacu anggota masyarakatnya untuk lebih kuat berusaha agar dapat menempati status tersebut.
12. Kemudahan
dalam akses pendidikan
Jika pendidikan berkualitas mudah didapat, tentu mempermudah orang untuk melakukan pergerakan/mobilitas dengan berbekal ilmu yang diperoleh saat menjadi peserta didik. Sebaliknya, kesulitan dalam mengakses pendidikan yang bermutu, menjadikan orang yang tak menjalani pendidikan yang bagus, kesulitan untuk mengubah status, akibat dari kurangnya pengetahuan.
Jika pendidikan berkualitas mudah didapat, tentu mempermudah orang untuk melakukan pergerakan/mobilitas dengan berbekal ilmu yang diperoleh saat menjadi peserta didik. Sebaliknya, kesulitan dalam mengakses pendidikan yang bermutu, menjadikan orang yang tak menjalani pendidikan yang bagus, kesulitan untuk mengubah status, akibat dari kurangnya pengetahuan.
Faktor
Penghambat Mobilitas Sosial:
Ada beberapa faktor penting yang
justru menghambat mobilitas sosial. Faktor-faktor penghambat itu antara lain
sebagai berikut :
- Kemiskinan. Faktor ekonomi dapat membatasi mobilitas sosial. Bagi masyarakat miskin, mencapai status sosial tertentu merupakan hal sangat sulit
- Diskriminasi kelas. Sistem kelas tertutup dapat menghalangi mobilitas ke atas, terbukti denga adanya pembatasab keanggotaan suatu orgnisasi tertentu dengan berbagai syarat dan ketentuan. seperti yang terjadi di Afrika Selatan di masa lalu, dimana ras berkulit putih berkuasa dan tidak memberi kesempatan kepada mereka yang berkulit hitam untuk dapat duduk bersama-sama di pemerintahan sebagai penguasa. Sistem ini disebut Apharteid dan dianggap berakhir ketika Nelson Mandela, seorang kulit hitam, terpilih menjadi presiden Afrika Selatan
Perbedaan Ras dan Agama. Dalam
sistem kelas tertutup dapat memungkinkan terjadinya mobilitas vertikal ke
atas. Dalam agama tidak dibenarka seseorang dengan sebebas-bebasnya dan
sekehendak hatinya berpindah-pindah agama sesuai keinginannya. - Perbedaan jenis kelamin (Gender). Dalam masyarakat, pria di pandang lebih tinggi derajatnya dan cenderung menjadi lebih mobil daripada wanita. Perbedaan ini mempengaruh dala mencapai prestasi, kekuasaan, status sosial, dan kesempatan-kesempatan dalam masyarakat.
- Faktor Pengaruh sosialisasi yang sangat kuat. Sosialisasi yang sangat atau terlampau kuat dalam suatu masyarakat dapat menghambat proses mobilitas sosial. Terutama berkaitan dengan nilai-nilai dan adat yang berlaku.
- Perbedaan kepentingan. Adanya perbedaan kepentingan antar individu dalam sutu struktur organisasi menyebabkan masing-masing individu saling bersaing untuk memperebutkan sesuatu.
D. Saluran-Saluran
Mobilitas Sosial
- Angkatan Bersenjata. Seseorang yang tergabung dalam angkatan bersenjata biasa ikut berjasa dalam membela nusa dan bangsa sehingga dengan jasa tersebut ia mendapat sejumlah penghargaan dan naik pangkat.
Pendidikan. Pendidikan baik
formal maupun nonformal merupakan saluran untuk mobilitas vertikal yang
sering digunakan, karena melalui pendidikan orang dapat mengubah
statusnya. Lembaga-lembaga pendidikan pada umumnya merupakan saluran yang
konkret dari mobilitas vertikal ke atas, bahkan dianggap sebagai social
elevator (perangkat) yang bergerak dari kedudukan yang rendah ke kedudukan
yang lebih tinggi. Pendidikan memberikan kesempatan pada setiap orang untuk
mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi. Contoh: Seorang anak dari
keluarga miskin mengenyam sekolah sampai jenjang yang tinggi. Setelah
lulus ia memiliki pengetahuan dagang dan menggunakan pengetahuannya itu
untuk berusaha, sehingga ia berhasil menjadi pedagang yang kaya, yang
secara otomatis telah meningkatkan status sosialnya. - Organisasi Politik. Seorang angota parpol yang profesional dan punya dedikasi yang tinggi kemungkinan besar akan cepat mendapatkan status dalam partainya. Dan mungkin bisa menjadi anggota dewan legislatif atau eksekutif.
- Lembaga keagamaan. Lembaga ini merupakan salah satu saluran mobilitas vertikal, meskipun setiap agama menganggap bahwa setiap orang mempunyai kedudukan yang sederajat.
- Organisasi ekonomi. Organisasi ini, baik yang bergerak dalam bidang perusahan maupun jasa umumnya memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi seseorang untuk mencapai mobilitas vertikal.
- Organisasi profesi. Organisasi profesi lainnya yang dapat dijadikan sebagai saluran mobilitas vertikal, antara lain ikatan.
- Perkawinan. Melalui perkawinan seseorang dapat menaikkan statusnya. Misalnya: seseorang wanita yang berasal dari keluarga biasa saja menikah dengan pria berstatus sosial ekonominya lebih tinggi. Hal ini menyebabkan naiknya status sosial nya sang wanita.
- Organisasi keolahragaan. Melalui organisasi keolahragaan, seseorang dapat meningkatkan status nya ke strata yang lebih tinggi.
E. Dampak
Mobilitas Sosial
Setiap mobilitas sosial akan menimbul kan peluang terjadinya penyesuaian-penyesuaian atau sebalik nya akan menimbulkan konflik.
Menurut Horton dan Hunt (1987), ada beberapa konsekuensi negatif dari adanya mobilitas sosial vertikal, di antaranya:
Setiap mobilitas sosial akan menimbul kan peluang terjadinya penyesuaian-penyesuaian atau sebalik nya akan menimbulkan konflik.
Menurut Horton dan Hunt (1987), ada beberapa konsekuensi negatif dari adanya mobilitas sosial vertikal, di antaranya:
- Adanya kecemasan akan terjadi penurunan status bila terjadi mobilitas menurun.
- Timbulnya ketegangan dalam mempelajari peran baru dari status jabatan yang meningkat.
- Keterangan hubungan anatar anggota kelompok primer, yang semula karena seseorang berpindah ke status yang lebih tinggi atau ke status yang lebih rendah.
Adapun dampak mobilitas sosial bagi
masyarakat, baik yang bersifat positif maupun negatif antara lain sebagai
berikut:
1.
Dampak
Positif :
a.
Mendorong
seseorang untuk lebih maju. Terbukanya kesempatan untuk pindah dari strata ke
strata yang lain menimbulkan motivasi yang tinggi pada diri seseorang untuk
maju dalam berprestasi agar memperoleh status yang lebih tinggi.
b.
Mempercepat
tingkat perubahan sosial masyarakat ke arah yang lebih baik. Mobilitas sosial
akan lebih mempercepat tingkat perubahan sosial masyarakat ke arah yang lebih
baik. Contoh: Indonesia yang sedang mengalami perubahan dari masyarakat agraris
ke masyarakat industri. Perubahan ini akan lebih cepat terjadi jika didukung
oleh sumber daya yang memiliki kualitas. Kondisi ini perlu didukung dengan
peningkatan dalam bidang pendidikan.
c.
Meningkatkan
intergrasi sosial terjadinya mobilitas sosial dalam suatu masyarakat dapat
meningkatkan integrasi sosial.misalnya, ia akan menyesuaikan diri dengan gaya
hidup, nilai-nilai dan norma-norma yang di anut oleh kelompok orang dengan
status sosial yang baru sehingga tercipta intergrasi sosial.
2.
Dampak
Negatif
- Timbulnya Konflik, Konflik yang ditimbulkan oleh mobilitas sosial dapat dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu sebagai berikut. :
1) Konflik
Antarkelas
Dalam masyarakat terdapat
lapisan-lapisan. Kelompok dalam lapisan tersebut disebut kelas sosial. Apabila
terjadi perbedaan kepentingan antarkelas sosial, maka bisa memicu terjadinya
konflik antar kelas.
2) Konflik
Antarkelompok sosial
Konflik yang menyangkut antara
kelompok satu dengan kelompok yang lainnya. Konflik ini dapat berupa:
a) Konflik antara kelompok sosial yang
masih tradisional dengan kelompok sosial yang modern
b) Proses suatu kelompok sosial
tertentu terhadap kelompok sosial yang lain yang memiliki wewenang
3) Konflik
Antargenerasi
Konflik yang terjadi karena adanya
benturan nilai dan kepentingan antara generasi yang satu dengan generasi yang
lain dalam mempertahankan nilai-nilai denga nilai-nilai baru yang ingin
mengadakan perubahan.
- Berkurangnya Solidaritas Kelompok. Penyesuaian diri dengan nilai-nilai dan norma-norma yang ada dalam kelas sosial yang baru merupakan langkah yang diambil oleh seseorang yamg mengalami mobilitas, baik vertikal maupun horizontal. Hal ini dilakukan agar mereka bisa diterima dalam kelas sosial yang baru dan mampu menjalankan fungsi-fungsinya
- Timbulnya Gangguan Psikologis. Mobilitas sosial dapat pula mempengaruhi kondisi psikologis seseorang, antara lain sebagai berikut. :
1) Menimbulkan ketakutan dan
kegelisahan pada seseorang yang mengalami mobilitas menurun.
2) Adanya gangguan psikologis bila seseorang
turun dari jabatannya.
3) Mengalami frustasi atau putus asa
dan malu bagi orang-orang yang ingin naik ke lapisan atas, tetapi tidak dapat
mencapainya.
Henslin, James M. 2006. Sosiologi Dengan Pendekatan Membumi.
Jakarta: Erlangga
Saptono,
Bambang. 2006. Sosiologi. Jakarta: Phibeta
Soekanto,
Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar.
Jakarta: Rajawali Pers
Subakti, A. Ramlan dkk. 2011. Sosiologi
Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Sutomo
dkk. 2009. Sosiologi. Malang: Graha Indotama
by Asrtara
Langganan:
Postingan (Atom)